~Fi Ayyi Ardhin Taskun Fa Hunaka DAkwatun Tubna~
There was an error in this gadget

Monday, October 12, 2009

JANGAN PERNAH LELAH BERAMAL

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain". (Q.S. Al Insyirah: 7)



Tidak dipungkuri lagi dalam pandangan kita sebagai kader dakwah, bahwa tabiat seorang mukmin sejati adalah berbuat, berbuat dan terus berbuat. Sehingga, seluruh waktunya selalu diukur dengan produktivitas amalnya. Ia tidak akan pernah diam. Karena diam tanpa amal, menjadi aib bagi orang beriman. Seorang mukmin akan terus mencermati peluang-peluang untuk selalu berbuat.

Maka, perlu kita ingat dalam sanubari yang paling dalam, bahwa 'nganggur' dapat menjadi pintu kehancuran. Tidaklah mengherankan, ketika banyak ayat maupun hadits yang memotivasi agar selalu berbuat dan berupaya untuk menghindari diri dari sikap malas dan lemah. Malas dan lemah berbuat dianggap sebagai sikap dan sifat buruk yang harus dijauhi orang-orang beriman.

Mengingat tugas dan tanggung jawab yang kita emban sangat besar dan masih banyak agenda yang menanti untuk diselesaikan. Maka, segeralah untuk menyiapkan diri menunaikannya. Rasanya perlu dicamkan dalam benak pikiran kita nasehat syaikh Abdul Wahab Azzam:

'Pikiran tak dapat dibatasi, lisan tak dapat dibungkam, anggota tubuh tak dapat diam. Karena itu, jika kamu tidak disibukan dengan hal-hal besar, maka kamu akan disibukan dengan hal-hal kecil'.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW. segera memberangkatkan para sahabat dalam ekspedisi militer yang beruntun sesudah Badar, untuk meminimalisir konflik internal yang amat mungkin terjadi lantaran berhenti sesudah amal besar.


Setiap kesempatan yang diberikan kepada seorang mukmin, maka setiap saat itu pula ada satu kaedah perintah secara implisit untuk dapat mengukir prestasi dirinya. Agar apa yang dilakukannya dalam putaran waktu, mampu disesuaikan dengan tuntutan zaman dan kapabilitas rijal-nya. Seperti kaedah dakwah yang memaparkan, 'setiap dakwah ada marhalah (tahapan)nya dan setiap marhalah ada tuntutannya dan setiap tuntutan ada orangnya'.

Sangat mudah untuk dipahami bila setiap waktu ada tuntutannya, maka kita mesti menyelaraskan diri agar sesuai dengannya. Tuntutan ini selaras dengan amanah yang diembankan kepada kita saat ini. Dan, dalam pandangan Islam, setiap amanah merupakan sesuatu tugas yang tidak boleh dikhianati atau diabaikan, hingga tidak dapat menunaikannya dengan baik.

Inilah kesempatan emas bagi kita untuk mengukir ukiran terindah dalam hidup kita, secara personal maupun kolektif. Agar kita mampu memberikan cermin indah bagi orang lain ataupun generasi berikutnya. Inilah saat yang tepat bagi kita mengukir prestasi. Pergunakanlah sebaik-baiknya agar kita memiliki investasi besar dalam dakwah ini.



Kita telah mafhum bahwa kemarin kita telah memaksimalkan tadhiyah untuk jihad siyasi. Dan, kita pun telah mengetahui balasan yang diberikan Allah atas upaya maksimal kita. Namun, bukan berarti kita telah selesai dalam amal jihadiyah ini. Melainkan, kita mesti menindak lanjuti prosesi amal ini. Agenda besar yang dapat kita lakukan adalah:

Pertama, Recovery tarbiyah, maksudnya adalah mengembalikan iklim tabawi seperti semula, yang menanamkan sikap komitmen pada Islam, sikap kekokohan maknawi dan militansi nilai-nilai dakwah. Begitu pula tentang apakah perjalanan liqa tarbawinya masih sebagaimana perjalanan di waktu normal. Memang kita akui bahwa saat kemarin perjalanan liqa tarbawi ini sedikit mengalami 'gangguan'.
Juga kondisi ruhaniyah dan moral para kader dakwah yang selalu menjadi pijakan dasar bagi para kader, apakah dalam kondisi prima ataukah sebaliknya. Sehingga, aktivitas yang biasa dilakukan melalui mabit-mabit dapat dikerjakan. Atau jalasah ruhiyah yang selalu diagendakan bagi akhwat dan lainnya. Hal ini tentu berdasarkan pada pandangan bahwa tarbiyahlah yang menjadi pijkan dakwah kita. Sehingga, aktivitas ini harus segera diin'asy (disegarkan) kembali.


Kedua, Taushi'atut Tajnid (Ekspansi Rekrutmen), sesudah banyak orang yang berhimpun dalam barisan dakwah ini, maka kita harus memberikan hak tarbiyah mereka. Apalagi mereka pun sesungguhnya sangat menanti kehadiran kader dakwah untuk bisa membina diri mereka dan menjadikan mereka sebagai bagian dari mesin besar dakwah ini. Pada waktu yang lalu, rekrutmen kader terbatas pada satu pintu tertentu, yakni kalangan akademisi. Di hari ini, segmentasi rekrutmen sudah sangat beragam. Sehingga, para junud dakwah ini harus dapat mengantisipasi untuk memperluas wilayah pembinaan di berbagai kalangan. Orang-orang yang telah berhimpun itu secara tidak langsung mengandung tanggung jawab untuk membina mereka menjadi kader yang sesunguhnya.



Ketiga, Ta'amuq Dzaty, memperdalam kualitas dan kemampuan diri. Sudah kita ketahui bahwa semakin banyak amanah yang dipercayakan umat kepada kita, maka harus semakin meningkat kualitas dan kemampuan kita untuk dapat menunaikannya. Dan, sekarang amanah yang diserahkan kepada kita pun urusannya amat beragam. Sehingga, kita pun selayaknya memperdalam kemampuan kita untuk dapat menyelesaikan urusan orang banyak yang beragam itu.



Keempat, Taqwiyatu Billah, memperkokoh hubungan dengan Allah SWT. Yang dapat menjadikan diri kita mampu dan kuat, tidak lain karena hubungan yang kuat pula pada Allah SWT. Sehingga, kita tidak boleh mengabaikan amal-amal yang menghantar diri kita ke arah itu. Dan, amaliyah ini sedapat mungkin menjadi harian kader yang selalu menghias pada jiwa dan raganya. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada diri kita untuk dapat melaksanakan tugas-tugas yang kita emban hari ini. Amien. Wallahu 'alam bishshawab.

"Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S. At Taubah: 105).

No comments:

Post a Comment